Total Pageviews

Thursday, April 25, 2013

Review: Evangelion - 3.33 You Can (Not) Redo (Evangelion Shin Gekijoban: Q)

Emo Shinji is back!
Cast: Megumi Ogata, Akira Ishida, Megumi Hayashibara, Maya Sakamoto, Yuko Miyamura
Genre: Science Fiction Drama, Action
Runtime: 95 Menit
Rating: R for brief nudity, disturbing scenes and strong violence

Yo! Howdy doody there!? Udah beberapa hari kaga update blog ini, berkat tugas-tugas yang tidak ber-prikemanusiaan, jadinya ga nyadar ini blog hampir kaga pernah update mwuehuehuehuehuehue. Nah, enough with the bullshit, kali ini kita bakal me-review film ketiga dari seri Rebuild of Evangelion yaitu Evangelion: 3.33 You Can (Not) Redo, film yang sudah ditunggu sejak bertahun-tahun sejak Evangelion: 2.22 You Can (Not) Advance yang dirilis tahun 2009 lalu. Cekidot!

Warning! Dari sini, akan ada SPOILER GALORE



14 tahun sejak Near Third Impact terjadi di Evangelion: 2.22. Shinji Ikari terbangun dan menyadari seluruh hidupnya telah berubah; orang-orang yang dulu ia lindungi dengan taruhan nyawanya malah berbalik membencinya, dua faksi yang berbeda; NERV di bawah pimpinan Gendo Ikari dan Wille di bawah pimpinan Misato Katsuragi saling menghancurkan, sementara ancaman para Angel dari luar masih tetap berdatangan dan gadis yang amat disayanginya; Rei Ayanami hilang entah kemana. Ditengah kebingungannya, Shinji bertemu dengan seorang pemuda; Kaworu Nagisa yang memberinya secercah harapan; kesempatan untuk memperbaiki hal mengerikan yang telah ia perbuat pada umat manusia sekaligus menghapus dosa "polos"-nya. Namun, usahanya itu juga dapat menjadi potensi untuk menyelesaikan apa yang telah ia mulai 14 tahun sebelumnya; akhir dari umat manusia.

DAT REI
Mungkin reaksi pertama kalian jika menonton 3.33 (jika belum melihat spoiler) adalah "WTF is this shit!?". Yap, reaksi kalian sama sekali tidak salah. 3.33 dengan sangat sangat nekat "melompat" dari apa yang 1.11 dan 2.22 sajikan dengan apik, mulai dari menit ke-7 film berjalan, kamu akan menyadari bahwa installment ini bukanlah installment Evangelion yang biasa. Jeda 14 tahun adalah hal yang sama sekali tidak pernah diduga bagi fans Evangelion, yang lama maupun yang baru. Film dimulai dengan rentetan adegan aksi yang bisa diakui cukup memukau, CGI yang digunakan sudah JAUH lebih baik dibanding 2.22 dimana penggunaan CGI di prekuelnya tersebut agak dipaksakan, sehingga terlihat kurang natural. Dari detik-detik awal film, CGI yang digunakan terlihat halus, namun tidak kehilangan detail yang memukau. Sedangkan untuk animasi 2D tradisionalnya, terlihat sangat mulus dan mendetail, terutama di adegan piano, detail pergerakan tangan karakter ketika menekan tombol-tombol piano sangat realistis, sedangkan untuk adegan yang menunjukkan landscape, kedetailannya yang luar biasa menambah nilai "ngeri" pada film ini, karena sebagian besar tempat yang kamu lihat berada dalam kondisi hancur.


Tapi harus diakui, 3.33 adalah yang terlemah dari segi cerita dan pengembangan karakter dibanding 1.11 dan 2.22. "Upaya" kedua pendahulunya tersebut terasa dibuang jauh-jauh ke laut, karena apa yang disajikan di 3.33 ini benar-benar baru, gila dan mengerikan, seperti menonton kembali seri ini dari awal, karena kita benar-benar diposisikan seperti Shinji; tidak mengetahui apapun yang terjadi selama ia vakum dari dunia. Karakter-karakter baru yang muncul di film ini sebenarnya sangat menarik untuk dieksplor lebih jauh, sayangnya demi alasan durasi, peran mereka dibuat sangat minim, hanya tampil di paruh awal dan akhir film. Tidak hanya itu, durasi yang cenderung singkat juga agak menganggu karena terlihat seperti agak terburu-buru dalam penceritaan, sehingga pengembangan karakter dihilangkan sebagai "pengorbanan". Bagi mereka yang menyukai tokoh Kaworu (khususnya para fangirl) yang hanya muncul di Episode 24 dan The End of Evangelion di seri orisinilnya, bergembiralah, karena ia berperan dengan sangat dominan di film ini. Persahabatan antara Shinji dan Kaworu merupakan salah satu poin plus untuk 3.33, karena di Episode 24 pertemanan antara kedua orang ini terkesan "kebetulan" dan terlalu cepat, adegan perkenalan Kaworu pun jauh lebih mengesankan dan memorable.
You know, shit just got real when Shinji made that face...
Jika paruh awal dan pertengahan terasa boring, berbanding terbalik dengan 30 menit terakhir filmnya. Pertempuran di Terminal Dogma adalah bagian paling bersinar di film ini, selain tingkat kedetilan animasi (just... watch the damn movie in glorious HD!), sound effect yang sangat meyakinkan menambah kesan dramatis, diiringi dengan score musik hasil racikan Shiro Sagisu yang berkelas Hollywood. Satu lagi hal yang benar-benar membuat penonton terpukau adalah adegan Fourth Impact, kedetilannya benar-benar patut diberi 2 jempol! Reruntuhan-reruntuhan bangunan serta objek-objek lainnya yang terangkat ke langit benar-benar terlihat realistis dan mengerikan untuk dilihat.

What the Fuck!? Teeth!?
Evangelion: 3.33 You Can (Not) Redo bukanlah installment yang sempurna, kekurangan serta kelebihannya yang berimbang membuat bingung, apakah ini merupakan hal yang sangat diinginkan para fans? Atau sebaliknya? Ya, 3.33 memiliki alasan tersendiri untuk dibenci dan dicintai. Dibenci karena tidak sesuai dengan yang diharapkan fans, dicintai karena menyajikan apa yang seharusnya sebuah produk Evangelion sajikan. Dengan begitu banyak plot yang masih bisa ditelusuri secara detil, akan sangat menarik melihat apa yang akan disajikan di film selanjutnya sekaligus yang terakhir; Evangelion: FINAL atau Shin Evangelion Gekijoban: || yang rencananya akan dirilis tahun ini, entah kapan. Yang jelas jika kamu seorang pecinta Evangelion maupun anime dengan cerita kompleks, You Can (Not) Miss This Out!

8.5 (Animasi yang mendetail serta nuansa anime orisinalnya menutupi semua kekurangan film ini)

Wednesday, April 17, 2013

Review: Devil Survivor 2 The Animation Episode 02 - Monday's Turmoil Part I

Andai aja gw punya jam weker segede ini, dijamin ga bakalan telat lagi deh >.<
Yak, satu lagi review telat dari saya. Damn, akibat tersihir dengan game berjudul Bioshock: Infinite jadinya semua review malah lupa, mana fanfic belum update lagi wkwkwkwkwkwkwk. Ehm, enough with the bullshit, let's move to the review.


Melanjutkan ending dari episode sebelumnya, Hibiki, Io dan Daichi ditahan oleh organisasi misterius yang bernama JP's (dibaca JIPS). Di markas JP's, trio ini bertemu dengan pemimpinnya yaitu Yamato Hotsuin dan mengungkap rahasia dibalik bencana mengerikan ini. Hibiki yang mengalami tekanan moral harus memilih, berjuang atau melarikan diri.

Berduaan di dalam kamar *BRAZZERS*
Seperti episode pertama, perubahan-perubahan plot yang cukup signifikan dari gamenya kembali muncul di episode ini dan jujur saja, agak menganggu. Bagi mereka yang memainkan gamenya akan merasa agak kecewa dengan beberapa perubahan ini, karakterisasi Hibiki memang enak untuk dilihat tapi ia dirasa terlalu "kuat", bagaimana coba? Reaksi Hibiki melihat Jepang yang porak-poranda tapi malah terlihat biasa saja, efek shock nyaris sama sekali tidak terasa. Bertolak belakang dengan Io, reaksi kejutnya akan kehancuran Jepang serta ketakutan kehilangan orang tua merupakan hal yang sangat wajar.



Sedangkan untuk adegan action, masih tetap menyenangkan dan cukup bombastis, BGM yang tepat juga mendukung keseruan. Tapi lagi-lagi ada hal yang cukup menganggu, Daichi. Ditengah-tengah pertarungan sengit, sempat-sempatnya Daichi malah berbicara hal yang sebenarnya lebih baik jika disimpan untuk di adegan-adegan lain. Tapi tidak semua perubahan berpengaruh buruk dengan perkembangan cerita, konspirasi JP's serta masa lalu antara Yamato dengan karakter misterius yang masih belum diperkenalkan namanya menjadi poin penasaran untuk penonton, baik gamer maupun non-gamer.


Episode kedua ini memang merupakan tontonan yang cukup menarik, tapi beberapa perubahan di sana-sini serta dialog yang cenderung tidak perlu memang agak menganggu. Mari kita lihat seperti apa episode-episode selanjutnya akan berjalan!

Overall: 7.5 (Bagus, tapi tidak sebagus episode sebelumnya)

Review: Kokoro Connect Episode 1 & 2

Connection of a feeling
Yak akhirnya setelah beberapa hari tidak me-review, mari kita lihat review anime tahun lalu yang cukup rame dan baru sempat ditonton oleh ane! Dan kali ini 2 episode dalam 1 paket, yuhuuuu!

Persahabatan, bagai kepompong ~ ~ ~

Lima sahabat yang terdiri dari Taichi Yaegashi, Iori Nagase, Himeko Inaba, Yui Kiriyama dan Yoshifumi Aoki adalah member dari klub riset budaya. Suatu hari, serangkaian kejadian aneh dimana jiwa mereka masing-masing tertukar secara acak. Kejadian-kejadian aneh yang disebabkan oleh sesuatu yang disebut "Heartseed" itu juga membuka rahasia-rahasia terpendam masing-masing dari mereka, luka-luka lama yang dialami kembali terbuka, kini hubungan persahabatan mereka haru diuji.


Kokoro Connect dari premisnya sendiri bisa dikatakan cukup unik. Dua episode pembuka ini berhasil menunjukkan ekspektasi yang cukup tinggi, desain karakter yang enak dipandang tapi tidak terlalu terlihat kekanak-kanakan serta karakterisasi para tokoh utama yang berbeda-beda menjadi kelebihan tersendiri untuk anime ini.

Untuk episode pertama, bisa dibilang cukup memuaskan. Perkenalan para karakterya dijelaskan dengan cukup singkat, tapi jelas dan tidak terasa terburu-buru. Komedi yang ada juga cukup menarik untuk mengundang tawa, adegan "pertukaran" badan antara Taichi dan Iori adalah adegan paling bersinar di episode ini. Bayangkan, jika tubuh anda *laki-laki* tertukar dengan tubuh lain *perempuan*, pastinya akan "terangsang" sesuatu bukan? Ehehehehe.

Sedangkan episode kedua, cerita mulai memasuki bagian yang agak kelam. Di episode ini, mulai diperkenalkan elemen supernatural yaitu "Heartseed", entitas misterius yang bisa merasuki seseorang sebagai "boneka". Heartseed sendiri tujuannya juga masih menjadi pertanyaan, kenapa memilih 5 sahabat ini sebagai "korban"? Selain itu juga, konflik terpendam dari para karakter juga mulai perlahan-lahan terbuka,

Interaksi antar karakter juga merupakan hal yang menarik, karena terjadi secara natural, meskipun ada beberapa dialog yang over dramatic atau bergaya shakespare-an, dialog-dialog yang ada mengalir dengan lancar dan mudah disimak. Dari segi animasi juga layak diacungi jempol, kedetilannya sangat enak dipandang.

Galau, mereka galau!
Kokoro Connect mungkin tidak se-"nendang" anime lain yang bertema agak sama seperti AnoHana, tapi bagi mereka yang menyukai drama emosional lengkap dengan rom-com, ini merupakan pilihan yang sangat tepat!

Episode 01: 8.0 (Lumayan untuk perkenalan)
Episode 02: 9.0 (Konflik yang intens mulai terasa disini, membuat tidak sabaran untuk episode selanjutnya!)

Monday, April 15, 2013

PANAS!

Mwuehuehuehuehuehuehue
Yah, kalau mau tau aja di Pontianak sedang dilanda panas. Ya, panas. Dan maksud dari panas itu benar-benar PANAS.

Ajigile, padahal kemarin siang hujan lebatnya kayak langit mau runtuh, ditambah dengan petir yang cetar-tar-tar membahana. Pas besoknya malah kontras jauh. Kalau panas gini enaknya nyebur ke kolam renang terus minum adem sari, ga tau adem sari? Itu loh, yang ada air terjun dibelakangnya. Masih ga tau lagi!? NIH!



Btw sekarang gw lagi libur sampe hari Kamis, jadinya ga ada kerjaan. Hari pertama aja ini kerjaannya cuma guling-guling di kamar terus duduk di depan layar laptop dengan speed 30kbps. Rada boring sih, yah... Libur disyukuri lah, moso' libur protes!

Sunday, April 14, 2013

Ujian Nasional! Brace Yourself!

Karena brace terus-terusan ujungnya ga dilakukan
Hey there! Hehe gw udah ga update ini blog selama beberapa hari gara-gara sibuk beresin rumah ^^  Well, berhubung ujian nasional yang akan dihadapi kakak-kakak kelas 3 sudah diujung hidung, saya ucapkan SELAMAT BERJUANG!! Semoga lulus 100% ^^

Btw ada satu hal yang agak mengganjal di hati banyak pelajar, yaitu paket ujiannya ada 20 paket, BUSET! Mendingan paket nasi ya? Khukhukhukhu.... Ini artinya kakak-kakak harus yakin pada diri sendiri, jangan percaya sama yang namanya kunci jawaban lah, atau bahkan yang lebih parah mandi kembang seperti yang dilakukan beberapa sekolah akhir-akhir ini *mendingan mandi matahari*.

Ekpresi para peserta UN ketika tau jumlah paket soal ada 20
Btw tadi ane liat di berita, ada tentang UN di Bali diundur gara-gara masalah dalam meng-kopi soal-soal ujian. Salah sendiri atuh, siapa suruh bikin paket banyak-banyak :P

Tuesday, April 9, 2013

Review: Game of Thrones Season 3 Episode 2: Dark Wings, Dark Words

You came to wrong hood, motherf*cker
Yak sesuai janji ane, malam ini ane bakal me-review episode 2 dari Game of Thrones Season 3! Seperti yang kita ketahui, episode pertama dari season ini sudah ane review dengan skor 9.0, yang notabene sangat tinggi! Apakah episode ke-2 ini bakal meningkatkan ekspektasi atau bahkan sebaliknya? Simak reviewnya disini!

Contain spoilers


Wait, this isn't a horror movie, right?

Episode ke-2 ini langsung dibuka dengan karakter yang hilang dari episode sebelumnya (dan juga salah satu favorit reviewer); Bran Stark (Isaac Hempstead-Wright)! Bagi kalian penggemar Bran bersukacitalah, karena Bran akan sangat dominan di episode ini. Bagi yang ingat dengan episode pertama dari Game of Thrones, tentu akan merasa deja vu, mungkin tujuannya untuk menambah kesan emosional dari kisah Bran yang cukup tragis. Karakter lain yang paling ditunggu kehadirannya serta story arc-nya adalah Jaime Lannister (Nikolaj Coster-Waldau), di akhir Season 2, Jaime yang nyaris dieksekusi oleh Robb dibebaskan oleh Catelyn Stark (Michelle Fairley), "diitemani" dengan Brienne of Tarth (Gwendoline Christie) duo ini melakukan perjalanan beribu-ribu kilometer untuk mencapai King's Landing. Setelah melarikan diri dari Castle of Harrenhall Arya Stark (Maisie Williams) bersama 2 orang temannya juga melakukan perjalanan jauh menuju The Wall.


When i was your age, granny always sunbathing in the beach of Dorne, until it burns my hair
"Dark Wings, Dark Words" kurang lebih adalah Season Premiere Bagian 2, karena dengan menghilangkan beberapa karakter dari episode sebelumnya, episode ini dengan leluasa memberi jalan kepada karakter-karakter yang sebelumnya tidak tampil. Adegan paling menarik dari perkenalan Bran adalah ketika ia merasa Deja Vu di episode pertama, lengkap dengan suara ayahnya; Eddard Stark, yang tewas dipenggal di Season 1, adegan ini tidak tampil di buku, sehingga baik pembaca maupun non pembaca buku akan merasa emosional mengingat betapa dicintainya karakter Eddard Stark dikalangan fans. Adegan baru lain yang menjadi nilai plus plus di episode ini adalah perbicangan antara Catelyn dengan Talysa Maegyr (Oona Chaplin) mengenai Jon Snow yang sangat emosional, pembaca bukunya pasti akan sangat terenyuh, karena di bukunya sangat terlihat betapa bencinya Catelyn terhadap Jon, ini adalah langkah yang sangat berani bagi kreator untuk sedikit merubah karakterisasi, tapi sangat efektif. 


My Heart will Go On ~ ~ ~ Eh, ntar dulu....
Tapi yang tidak bisa dipungkiri sama sekali adalah karakter Margaery Tyrell (Natalie Dormer), Dormer begitu menguasai karakternya, perilaku centil Margaery namun terlihat cerdas sanggup diperankannya dengan baik, tahukah kalian jika umur Dormer dengan karakter yang diperankannya berbeda jauh!? Bukan hanya Dormer, karakter baru yang juga ditunggu-tunggu kehadirannya yaitu Lady Olenna Tyrell (Diana Rigg) tampil dengan impresif. Dialog antaranya dengan Sansa menunjukkan bahwa Olenna bukan hanya sekedar "numpang lewat", tapi juga "pemain" baru dari perpolitikan di Westeros. Sekali lagi, perpaduan antara naskah dengan cast yang sempurna menjadi poin plus untuk episode kali ini. Story arc Arya juga dimulai dengan menarik, diikuti dengan perkenalan The Brotherhood Without Banners yang akan memiliki peranan signifikan di bukunya, serta cliff-hanger dahsyat di akhir. Kekurangannya adalah, Daenerys tidak muncul di episode ini, padahal ending episode pertama sangat-sangat membuat penonton greget, dan juga Jon hanya muncul sebentar. Hal ini bisa dimaklumi karena begitu banyak karakter baru yang dimunculkan disini.

Jedi vs She-Jedi!
Last but not least, adalah pertarungan epic antara Jaime dengan Brienne, koreografi pedang yang impresif! Yang tidak absen juga adalah ceplas-ceplos ala Jaime yang dirindukan fans sejak Season kedua, nada sarkastik dan sombongnya tetap menjadi sedikit unsur humor bagi penggemar setia. Akan sangat menarik melihat bagaimana perkembangan hubungan antara dua orang yang saling bertolak belakang ini, karena di bukunya sendiri, story arc Jaime adalah salah satu yang paling seru untuk disimak.

Overall, episode ke-2 ini sudah berhasil meningkatkan ekspektasi para penonton pembaca maupun non-pembaca novelnya dengan sedikit kejutan di sana-sini. Mari kita tunggu akan seperti bagaimana episode selanjutnya!

9.5 (Holy crap!)

Stay tune next week for new episode review!

Tragedi hari ini: Ulangan dadakan



Hari ini baru saja terjadi hal mengerikan yang pernah dialami oleh semua umat siswa di seluruh dunia; ulangan dadakan :v

Awalnya guru mata pelajaran reception gw (Disamarkan seabagi Mrs.L)  hanya nyuruh menguasai materi tentang reception, terus dihapalin brosurnya tanpa bilang bakal ada ulangan. Guess what? Taunya ULANGAN.

Mampus.

Soalnya sih ga susah-susah amat, cuma materi ini-itu yang udah dipelajari sejak awal semester. Tetap aja gara-gara ga tau bakal ada dadakan gini jadi ada yang lupa-lupa ingat T_T (asik kerokin temen). Ini guru bener-bener ngasih trap ke kelas gw =="

Btw kayaknya minggu ini minggu tenang deh, soalnya kan kakak kelas 3 mau ujian jadinya guru jarang masuk buat ngasih materi, cuma ngasih tugas (dan ga pernah dikerjain sepenuh hati) dan voila, guru hilang entah kemana.

Bonus dikit:

Saykoji - Ulangan Dadakan

Btw review Game of Thrones nyusul nanti malem, stay tune! Harusnya dipost kemarin, tapi gara2 speedy kampret speed inetnya terjun bebas, hati gw luka2 T_T

Monday, April 8, 2013

Soal warna

Okay, mungkin banyak yang bingung soal warna dan font beda-beda untuk setiap post, gunanya untuk bedain mana post review dan mana post yang BS/daily life/other shits ^^

Aston Hotel, GRAAAAHHHH!!!


Yak, barusan tadi pagi telah terjadi sesuatu yang hebat, guess what? Kunjungan ke Aston Hotel Pontianak, YIHAAA!!! FYI, tujuan kunjungan ini untuk praktek table manner, hah, table apaan? Makanya belajar perhotelan sana gih *PLAK*. Just kidding, bro, table manner itu kurang lebih adalah tata cara makan yang baik dan benar. Tepat sekali, kurang lebih 4 kelas (Jurusan Perhotelan sama Boga) dijamu dengan 3 hidangan berbeda, enak-enak lagi!

First Course: Potato Cream Soup


Soup, a fucking soup
First course atau biasa disebut appetizer, fungsinya cuma sebagai pembangkit selera, semacam prolog untuk hidangan utama gitu. Enak sih... Tapi gara-gara harus pakai tata cara makan yang baik dan benar, tangan pegal linu ==" Overall ini menu enyaaaak!

Second Course: Grilled Chiken with Potato Cream

Ini baru greget!

Second course atau main course! Hidangan paling greget sepanjang ane makan >.< Btw potato creamnya ga keliatan gara-gara ketutup tomat :v

Final Course: Chocolate Cake

A worth for dessert!

Enough sayin'

Cuma tiga jenis tapi lumayan kenyang lho! Selanjutnya ya... sesi foto-foto bareng teman-teman! Coba tebak ane yang mana :v







Btw tadi ada sedikit awkward moment sama General Managernya:

GM: *nepok pundak* Namamu siapa nak?
Ane: Gusti Pak!
GM: Kamu ini cocok jadi calon pengganti bapak nanti!

Wah boleh dong, sekalian makan gratisnya :P

Btw ikut kunjungan ini enak lho, dapet sertifikat yang bisa berguna buat kerja, cuma butuh skill kerja terus tunjukin sertifikat VOILA!! Langsung jadi pegawai :P

Review: Dead Space 3 - Awakened (DLC)


Genre: Survival Horror, Action
Developer: Visceral Games
Publisher: EA Games
Mode(s): Single Player, Online Co-Op
Platform(s): PS3, X360, Microsoft Windows
Rating: M for strong violence, disturbing scenes and strong languange

WARNING! Review ini akan berisi segudang spoiler untuk Dead Space 3, mengingat DLC ini ber-setting setelah game utama.

Bagi mereka yang telah menamatkan game Dead Space 3, tentu akan mengetahui adegan rahasia setelah end credit berjalan yang menunjukkan bahwa Isaac Clarke, protagonis seri Dead Space, masih hidup. DLC ini akan menyajikan kisah epilog dari Dead Space 3 dengan cara yang singkat, namun sangat-sangat mengerikan.


Pemadangan "indah" yang bisa kamu lihat di Tau Volantis
Setelah mengalahkan salah satu dari Brother Moon di akhir Dead Space 3, Isaac Clarke dan John Carver mendapati bahwa diri mereka masih hidup secara misterius. Sementara itu, setelah kematian dari Jacob Danik; pemimpin dari kepercayaan Unitologist tidak membuat para penganut kepercayaan tersebut menyerah, mereka membangun sebuah "kuil" di reruntuhan pesawat raksasa Terra Nova, dipimpin oleh The Prophet. Menyadari teror dari Brother Moons masih belum berakhir, Isaac dan Carver harus berpacu dengan waktu untuk berusaha memperingati warga bumi sebelum mereka tiba, namun bukan tanpa halangan, selain para unitologist, necromorph juga siap untuk membantai duo ini dan yang paling mengerikan; Isaac sekali lagi mengalami halusinasi mengerikan, seperti yang dialaminya di pesawat Ishimura dan Titan Sprawl.



Mungkin dari sebagian besar fans Dead Space agak kecewa karena kurangnya unsur horror di Dead Space 3 dan Visceral Games kelihatannya "sengaja" untuk menyimpan horror tersebut di DLC ini. Yak, bisa diakui, Awakened benar-benar merupakan sebuah fanservice yang nyaris sempurna bagi mereka yang merindukan unsur horror mencekam ala Dead Space dan Dead Space 2. Disini, halusinasi atau dementia kembali dihadirkan di DLC ini, dan kali ini jauh lebih mengerikan. Seringkali kamu akan mengalami halusinasi secara tiba-tiba seringkali membuatmu terkejut atau bahkan melompat dari tempat duduk, ditambah dengan sound effect mumpuni yang sanggup membuatmu bergidik ngeri, seringkali juga halusinasi tersebut sangatlah realistis sehingga akan susah untuk membedakan mana yang nyata dan mana yang halusinasi. Dari segi aura, Awakened juga memiliki nilai lebih, lokasi-lokasi yang kamu kunjungi seringkali "dihiasi" dengan potongan-potongan tubuh manusia atau bahkan mayat-mayat manusia yang bergelimpangan.


Cosplaying as Necromorph, 'cause cosplaying as anime characters is too mainstream
Sayangnya, dari segi cerita, Awakened kedodoran. Dengan panjang kurang lebih 60 menit, Awakened dirasa terlalu terburu-buru dalam menceritakan epilog ini. Banyak plot hole disana-sini, bagaimana mungkin Isaac dan Carver bisa selamat? Sejak kapan unitologist terlahir kembali? Semuanya tidak diungkap di Awakened. Combat system serta environment juga tidak terlalu banyak mengalami perubahan, karena sebagian besar area yang kamu jelajahi di DLC sudah pernah kamu kunjungi. Dari segi perkembangan karakter, Awakened patut diacungi jempol! Isaac di sini jauh lebih "gila" dibanding prekuel-prekuelnya, di main campaign, Isaac terkesan hanya sekedar hero biasa yang berusaha menyelamatkan dunia, tapi di Awakened, emosi Isaac jauh lebih tidak terkontrol, ia akan seringkali terlihat seperti kehilangan kewarasan, seperti mengancam untuk membunuh Carver atau berteriak tidak jelas yang akan menambah aura mencekam ala game-game sebelumnya. Carver juga masih menjadi karakter yang menarik untuk disimak, selain kepribadiannya yang bertolak belakang dengan Isaac, kata-kata pedasnya juga menjadi bumbu menarik dari dialog di Awakened.


Bromance will never happen in Dead Space universe
Awakened mungkin bukanlah DLC yang sempurna, tapi bagi mereka yang merupakan fans setia Dead Space, tentu saja jangan kelewatan dengan konten tambahan ini. Meskipun cenderung pendek, Awakened jauh lebih memorable dengan momen-momen mengerikan seperti halusinasi yang mengejutkan, atmosfer cerita yang lebih kelam serta yang paling dahsyat; endingnya. Dari endingnya terlihat jelas Visceral Games berniat untuk menyajikan sesuatu yang lebih besar untuk kelanjutan seri ini, Dead Space 4? DLC baru? Kita lihat saja! Awakened adalah sebuah DLC yang worth-playing bagi fans Dead Space!

8.0 (Cool, bro)

Screenshot bonus:






Sunday, April 7, 2013

Review: Game of Thrones Season 3 Episode 01 - Valar Dohaeris


Game of Thrones memang masih tergolong baru dari segi lama tayangnya, terhitung debutnya baru dilakukan 2 tahun yang lalu, tapi dari segi popularitas, seri medieval fantasy ini meroket luar biasa. Penjualan merchandise yang tinggi, Blu-ray dan DVD yang sukses besar, serta seri penjualan seri novelnya yang saat ini masih belum selesai juga ikut terkena arus positif kepopuleran TV series. Setelah penantian 1 tahun *hiaaaa!!!* akhirnya Season ketiga dari seri ini tayang juga, seperti apakah episode perdana ini? Mari simak review berikut ini!!

Camping yang sangat menyenangkan!
Melanjutkan cerita dari ending season sebelumnya. Jon Snow (Kit Harington) menjadi mata-mata bagi The Night's Watch untuk mengawasi pergerakan dari Mance Rayder (Ciaran Hinds), sang King Beyond the Wall, pemimpin para wildlings. Sementara itu Tyrion Lannister (Peter Dinklage) menjadi "tahanan" oleh ratu Cersei Lannister (Lena Headey), yang tidak lain adalah kakaknya sendiri, Tyrion yang mengetahui konspirasi-konspirasi dibalik kekuasaan di King's Landing menjadi ancaman berbahaya bagi Cersei, sehingga nyawanya berada di ujung tanduk. Daenerys Targaryen (Emilia Clarke) masih melanjutkan perjalanannya demi merebut kembali gelar yang seharusnya dimiliki oleh dirinya; ratu dari Westeros, dengan naga-naga miliknya, ia berkelana dari Qarth hingga ke kota The Slaver's Bay, tempatnya para budak dan tentara bayaran, namun ia tidak mengetahui bahaya apa yang harus dihadapinya disana. Pecahan-pecahan plot yang tersebar di seluruh penjuru Westeros perlahan-perlahan mulai menjadi satu, inilah konflik terbesar yang harus dihadapi oleh seluruh penduduk Westeros, permainan paling mematikan yang pernah ada, the Game of Thrones.


Seperti season-season sebelumnya, pace dari penceritaan masih berjalan lambat, guna mendapat aura dan tensi konflik baru yang akan dimunculkan di season ini. Mengingat begitu banyaknya karakter di seri ini, hilangnya beberapa karakter dari season premiere ini adalah hal yang sangat wajar, karena bila memasukkan seluruh karakter utama, maka akan terjadi tumpang-tindih plot yang akan menganggu kestabilan penceritaan. Adegan perkenalan karakter Mance Rayder adalah salah satu poin positif dari episode ini, kuatnya script serta ketepatan dalam ber-acting menjadi kunci dari kenikmatan menonton, syukurnya, 2 poin tersebut masih tetap melekat di season premiere ini. Dialog-dialog yang ada mengalir dengan spontan, tidak terkesan shakesparean, humor-humor gelap juga tetap muncul disini, tidak jarang membuat penonton tersenyum.


Valar Dohaeris tetap merupakan sebuah episode pembuka yang fantastis untuk sebuah season yang kemungkinan akan menjadi season terbaik di seri ini. Dengan plot yang masih stabil, tidak meninggalkan poin-poin penting yang dibangung di season 2 serta karakter-karakter yang mulai berkembang, agaknya season ketiga ini perlu mendapatkan perhatian lebih dibanding season-season sebelumnya. Ekspektasi tinggi dari para fans berhasil dipenuhi di episode ini, meskipun ada beberapa karakter yang hilang, hal itu masih bisa dimaafkan. Season 3 adalah pembuka untuk cerita dari buku terbaik dari seri novelnya; A Storm of Swords yang juga akan menjadi basis Season 4, begitu banyak cerita yang masih terpendam dibalik ribuan halaman di buku tersebut. Marilah bersabar dengan menunggu episode-episode selanjutnya yang dijanjikan akan lebih padat dan menarik.

9.0 (A great start for a new season!)

Stay tune this week for new episode! See ya!

Review: Devil Survivor 2 The Animation Episode 01 - Sunday Melancholy


Hey there! Sesuai janji ane, ane bakal ngepos review-review dari film, anime atau game yang sedang ane ikuti. So, stay tune ya!


Ternyata Daichi dan Hibiki demen minum Starbucks
Kuze Hibiki (Kamiya Hiroshi) dan Shijima Daichi (Okamoto Nobuhiko) adalah siswa kelas 3 SMA yang mendapati bahwa video kematian mereka sendiri telah di-upload ke situs misteri yang populer dikalangan remaja; Nicaea. Ketika nyaris tewas dalam kecelakaan kereta, Hibiki memilih untuk tetap bertahan hidup dengan membuat kontrak dengan para demon. Diikuti dengan survivor lainnya yaitu Nitta Io (Uchida Aya), ketiga remaja ini harus menghadapi sesuatu yang tidak pernah mereka duga, dunia diambang kehancuran setelah diserang oleh entitas misterius yang disebut Septentrione. Dengan begitu banyak konspirasi dibalik penyerangan ini, Hibiki selaku salah satu dari 13 Devil Messenger harus berusaha untuk membuat keputusan sakral dalam waktu 7 hari untuk menyelamatkan dirinya, teman-temannya, dan dunia.



Kesan pertama dari episode perdana ini cukup memuaskan. Animasinya tergolong sangat bagus, CGI juga lumayan enak dipandang. Soal karakterisasi dari protagonis (yang digamenya tidak memiliki kepribadian tetap), dirasa cukup tepat, kelihatannya pihak penulis naskah menyadari kesalahan fatal yang mereka lakukan dengan meng "blakblak"-kan tokoh utama dari Persona 4. Soal pacing, banyak non-pemain yang merasa cerita terlalu cepat berkembang, karena di gamenya pacing dari chapter pertama sudah cukup cepat (plus tingkat kesulitan dewa, hohohoho). Perubahan-perubahan plot sana sini cukup enak, karena baik yang pemain maupun non-pemain gamenya akan sama-sama merasa enak, (sekali lagi) tidak seperti Persona 4 yang PERSIS dengan gamenya, sehingga menghancurkan pace serta aura anime pada umumnya. Bagi mereka yang mengharapkan persis, siap-siap untuk kecewa, wajar sana karena masalah durasi yang hanya sekitar 25 menit akan sangat susah untuk merangkum semua isi chapter di gamenya dalam 1 episode. Toh kalau sama dengan gamenya ntar bosan kan?


Stay tune next week for Episode 02: Monday Turmoil Part 1!

8.9/10 (Damn cool!)Oiya, Opening dan Ending themenya EPIC!