Total Pageviews

Thursday, April 25, 2013

Review: Evangelion - 3.33 You Can (Not) Redo (Evangelion Shin Gekijoban: Q)

Emo Shinji is back!
Cast: Megumi Ogata, Akira Ishida, Megumi Hayashibara, Maya Sakamoto, Yuko Miyamura
Genre: Science Fiction Drama, Action
Runtime: 95 Menit
Rating: R for brief nudity, disturbing scenes and strong violence

Yo! Howdy doody there!? Udah beberapa hari kaga update blog ini, berkat tugas-tugas yang tidak ber-prikemanusiaan, jadinya ga nyadar ini blog hampir kaga pernah update mwuehuehuehuehuehue. Nah, enough with the bullshit, kali ini kita bakal me-review film ketiga dari seri Rebuild of Evangelion yaitu Evangelion: 3.33 You Can (Not) Redo, film yang sudah ditunggu sejak bertahun-tahun sejak Evangelion: 2.22 You Can (Not) Advance yang dirilis tahun 2009 lalu. Cekidot!

Warning! Dari sini, akan ada SPOILER GALORE



14 tahun sejak Near Third Impact terjadi di Evangelion: 2.22. Shinji Ikari terbangun dan menyadari seluruh hidupnya telah berubah; orang-orang yang dulu ia lindungi dengan taruhan nyawanya malah berbalik membencinya, dua faksi yang berbeda; NERV di bawah pimpinan Gendo Ikari dan Wille di bawah pimpinan Misato Katsuragi saling menghancurkan, sementara ancaman para Angel dari luar masih tetap berdatangan dan gadis yang amat disayanginya; Rei Ayanami hilang entah kemana. Ditengah kebingungannya, Shinji bertemu dengan seorang pemuda; Kaworu Nagisa yang memberinya secercah harapan; kesempatan untuk memperbaiki hal mengerikan yang telah ia perbuat pada umat manusia sekaligus menghapus dosa "polos"-nya. Namun, usahanya itu juga dapat menjadi potensi untuk menyelesaikan apa yang telah ia mulai 14 tahun sebelumnya; akhir dari umat manusia.

DAT REI
Mungkin reaksi pertama kalian jika menonton 3.33 (jika belum melihat spoiler) adalah "WTF is this shit!?". Yap, reaksi kalian sama sekali tidak salah. 3.33 dengan sangat sangat nekat "melompat" dari apa yang 1.11 dan 2.22 sajikan dengan apik, mulai dari menit ke-7 film berjalan, kamu akan menyadari bahwa installment ini bukanlah installment Evangelion yang biasa. Jeda 14 tahun adalah hal yang sama sekali tidak pernah diduga bagi fans Evangelion, yang lama maupun yang baru. Film dimulai dengan rentetan adegan aksi yang bisa diakui cukup memukau, CGI yang digunakan sudah JAUH lebih baik dibanding 2.22 dimana penggunaan CGI di prekuelnya tersebut agak dipaksakan, sehingga terlihat kurang natural. Dari detik-detik awal film, CGI yang digunakan terlihat halus, namun tidak kehilangan detail yang memukau. Sedangkan untuk animasi 2D tradisionalnya, terlihat sangat mulus dan mendetail, terutama di adegan piano, detail pergerakan tangan karakter ketika menekan tombol-tombol piano sangat realistis, sedangkan untuk adegan yang menunjukkan landscape, kedetailannya yang luar biasa menambah nilai "ngeri" pada film ini, karena sebagian besar tempat yang kamu lihat berada dalam kondisi hancur.


Tapi harus diakui, 3.33 adalah yang terlemah dari segi cerita dan pengembangan karakter dibanding 1.11 dan 2.22. "Upaya" kedua pendahulunya tersebut terasa dibuang jauh-jauh ke laut, karena apa yang disajikan di 3.33 ini benar-benar baru, gila dan mengerikan, seperti menonton kembali seri ini dari awal, karena kita benar-benar diposisikan seperti Shinji; tidak mengetahui apapun yang terjadi selama ia vakum dari dunia. Karakter-karakter baru yang muncul di film ini sebenarnya sangat menarik untuk dieksplor lebih jauh, sayangnya demi alasan durasi, peran mereka dibuat sangat minim, hanya tampil di paruh awal dan akhir film. Tidak hanya itu, durasi yang cenderung singkat juga agak menganggu karena terlihat seperti agak terburu-buru dalam penceritaan, sehingga pengembangan karakter dihilangkan sebagai "pengorbanan". Bagi mereka yang menyukai tokoh Kaworu (khususnya para fangirl) yang hanya muncul di Episode 24 dan The End of Evangelion di seri orisinilnya, bergembiralah, karena ia berperan dengan sangat dominan di film ini. Persahabatan antara Shinji dan Kaworu merupakan salah satu poin plus untuk 3.33, karena di Episode 24 pertemanan antara kedua orang ini terkesan "kebetulan" dan terlalu cepat, adegan perkenalan Kaworu pun jauh lebih mengesankan dan memorable.
You know, shit just got real when Shinji made that face...
Jika paruh awal dan pertengahan terasa boring, berbanding terbalik dengan 30 menit terakhir filmnya. Pertempuran di Terminal Dogma adalah bagian paling bersinar di film ini, selain tingkat kedetilan animasi (just... watch the damn movie in glorious HD!), sound effect yang sangat meyakinkan menambah kesan dramatis, diiringi dengan score musik hasil racikan Shiro Sagisu yang berkelas Hollywood. Satu lagi hal yang benar-benar membuat penonton terpukau adalah adegan Fourth Impact, kedetilannya benar-benar patut diberi 2 jempol! Reruntuhan-reruntuhan bangunan serta objek-objek lainnya yang terangkat ke langit benar-benar terlihat realistis dan mengerikan untuk dilihat.

What the Fuck!? Teeth!?
Evangelion: 3.33 You Can (Not) Redo bukanlah installment yang sempurna, kekurangan serta kelebihannya yang berimbang membuat bingung, apakah ini merupakan hal yang sangat diinginkan para fans? Atau sebaliknya? Ya, 3.33 memiliki alasan tersendiri untuk dibenci dan dicintai. Dibenci karena tidak sesuai dengan yang diharapkan fans, dicintai karena menyajikan apa yang seharusnya sebuah produk Evangelion sajikan. Dengan begitu banyak plot yang masih bisa ditelusuri secara detil, akan sangat menarik melihat apa yang akan disajikan di film selanjutnya sekaligus yang terakhir; Evangelion: FINAL atau Shin Evangelion Gekijoban: || yang rencananya akan dirilis tahun ini, entah kapan. Yang jelas jika kamu seorang pecinta Evangelion maupun anime dengan cerita kompleks, You Can (Not) Miss This Out!

8.5 (Animasi yang mendetail serta nuansa anime orisinalnya menutupi semua kekurangan film ini)

1 comment: